Yang Muda dan Dermawan

Ada cerita nih yang perlu kita renungkan. Jum’at kemarin saya dapat tugas dari kantor untuk mengirimkan undangan Workshop ke sekolah2 di daerah Wonosari Gunungkidul. Berangkat dari kantor sekitar jam 10, sampai kira2 jam 11 an. Sesampai di Wonosari langsung deh keliling beberapa sekolah. Pas sekitar jam 12 tugas dah selesai, kami (saya dan satu temenku) memutuskan untuk sholat jum’at di masjid agung Wonosari. Suasananya hujan deras tuh. Sembari nunggu hujan kami istirahat di masjid sebelum pulang lagi ke Jogja. Kebetulan sekali di serambi masjid temenku bertemu sepupunya yang kebetulan sepupunya itu temenku waktu SMU. Aziz namanya, ia sekarang dah jadi seorang guru di SMK Muh. Kebetulan lagi nggak cuma Aziz temenku yang jadi guru, si Yuni Edi (temenku SMU satu kelas dan satu banggku) juga jadi guru juga di sana. Bisa kebayang tuh temen2 yang dah lama gak ketemu beberapa tahun akhirnya bisa ketemu tanpa rencana. Ngaco semua lupa kalau sekarang dah jadi guru sampai2 muridnya pada heran. :) Setelah ngobrol beberapa saat akhirnya mereka harus pergi kehabitatnya lagi karena tugas sudah menunggu. Kami pun masih menunggu hujan yang nggak kunjung reda. Setelah beberapa saat akhirnya kami pun akhirnya memutusnya untuk pulang ke Jogja karena hujan nggak mau mengalah dan kami juga dikejar waktu. Beberapa saat kami akhirnya hampir sampai di Jogja. Diperjalanan kami tertarik untuk berhenti sejenak di tempat favorit anak Gunungkidul untuk tongkrong kalau pergi ke Jogja. Puncak Pathok “Hargodumilah” disitu kami berteduh di tempat makan sembari menunggu barangkali hujan mau mengalah. Duduk ditemani teh yang hangat dan semangkok soto makanan favorit dimanjakan pemandangan nan indah. Ditambah lagi hujan rintik2 yang manambah nikmat makan dan minum kami.

Ada cerita yang menarik yang perlu kita renungkan di tempat ini. Selang beberapa menit setelah kami duduk, ada beberapa tepatnya tiga anak muda satu cewek dan dua cowok. Mereka mamakai mobil Honda Jazz biru muda plat nomornya AB7010 belakangnya rahasia. Sekilas mereka memang biasa saja seperti anak orang kaya yang yes dan sok gaya, tetapi setelah beberapa waktu anggapan saya itu salah semua dan boleh dibilang terkejut dengan kejadian itu. Ceritannya begini, sebelum kami sampai diwarung itu memang ada seseorang yang berteduh duduk dipinggir warung. Perawakannya kumal (bukan berarti menghina) biasa seperti orang dari sawah. Sepintas saya kira orang kampung sekitar situ yang sedang berteduh dari hujan. Tetapi setelah diperhatikan ternyata orang tersebut musafir yang kehujanan di pingir jalan. Ia melakukan perjalanan dengan sepeda ontel yang berbendera merah putih diikat di belakang joknya. Denger2 ia malakukan perjalanan menuju ke Gunungkidul. Tapi dari mana nya saya juga kurang jelas. Kembali ke cerita nih, anak muda yang tadi datang kemudian pesen makanan kemudian duduk dipinggir warung yang untuk menikmati pemandangan Jogja dilihat dari atas. Salah seorang dari mereka ada yang membawa kamera seperti fotografer. Kemudian yang satunya lagi pelan2 mendekati orang yang duduk dipinggir warung tadi. Awalnya mereka ngobrol kurang jelas juga apa yang diobrolkan. Singkat cerita anak muda tadi kemudian pesan soto dan secangkir teh lagi. Saya kira ada yang nambah. Eh..ternyata buat orang yang duduk dipinggir tadi. Segelas teh hangat dan semangkuk soto bagi mereka bunlah apa2 tapi bayangkan bagi orang yang sedang perjalanan jauh yang dihadang hujan dengan perut kosong hal itu merupakan nikmat dari Tuhan yang tidak terkira. Dan anak2 muda tersebut tidak menunjukkan kesombongannya mereka santai iklash dengan apa yang mereka lakukan.

Saya sebenernya malu dengan mereka, karena tidak peka dengan lingkungan sekitar saya. Dari kejadian ini saya sangat terharu dan trenyuh, ternyata masih ada anak2 yang berjiwa dermawan, peduli dengan sesama. Tidak seperti kebanyakan anak2 muda yang biasanya hanya bisa membanggakan dan menyombongkan harta orang tuanya saja. Semoga saja masih banyak lagi orang seperti mereka ini yang dengan iklash membantu sesama dimana tempat dan tidak peduli agama, suku ras, atau golongan apa yang dibantu.

Buat ketiga anak muda tadi salam dari saya kalau kalian sempat membaca tulisan ini tinggalkan pesan supaya saya bisa berkenalan lebih jauh dengan kalian (kalau boleh). Saya sangat berharap bisa berkenalan dengan orang2 baik seperti kalian. Kemarin nggak sempat kenalan karena waktunya gak pas binggun gimana kenalannya :)

Renungkanlah “Bagaimana jika kita di posisi atau kondisi seperti orang yang duduk di pinggir warung tadi. Kehujanan, kelaparan, kelelahan tetapi harus tetap berjalan meneruskan hidup yang semakin gila ini”

5 Tanggapan

  1. ya harus begitu jadi orang itu, peduli dengan lingkungan jangan mementingkan dirinya sendiri saja, hidup indonesia
    hidup wonosari
    go go go freedom
    punya wbsite ndak? kasih aku alamatnya
    katanya avila indri mau nikah di wonosari tgal 21 april 2008 ya?

  2. Anak muda itu adalah saya huahahahaha………….

  3. #sapto
    Lom ada sap… blog ini aja dah susah nyisihin waktu untuk ngisinya. Ntar klo ada tak kasih tau tunggu aja.
    Aku g ada undangan tuh sap lupa kali :)

    #Badai Ilko
    kalau kamu boro2 peduli lingkungan, diri sendiri aja gak ke urus mandi aja cuma sekali dalam setahun itu aja kalau 1suro
    kekekekekekekekekekekeke

  4. yep kamu sibuk ngapain ta?
    sok sibuk apa emang sibuk?

  5. Enak juga ya maem soto+teh anget…..bikin laper aja…..btw..km knjungi balik blog aku ya….oce…btw yg jd blogger cew nya liane ak sopo sef?ak dikasih link nya ya!oc…(komp 00)

Tinggalkan Balasan