Dapat apa kalau kuliah?

Posted: Juni 27, 2010 in centil (cerita menyentil)

Dapat apa kalau kuliah? pertanyaan itu masih terngiang saat seorang temen melontarkan pertanyaan itu. Kala itu kita lagi ngobrol-ngobrol ringan di basecamp kontrakan. Biasa sehabis menunaikan kewajiban kuliah kita sering kumpul-kumpul ngobrol sambil main musik ditemani beberapa gorengan dan es teh di saat cuaca Jogja panas. Lantas seorang temen melontarkan sebuah pertanyaan ringan yang membuat saya berpikir. “Dapat apa kalau kamu kuliah?” tanya nya sembari senyum ringan. Dengan spontan saya jawab, “ya karena aku kuliah di Ilmu Komputer ya mestinya nanti jadi jago komputer, bisa membuat program atau programmer. Kalau yang database nanti jago pake Delphi, VB, FoxPro, dan sejenisnya, trus jago buat Web, klo yang multimedia dan animasi ya jadi animator jago buat animasi. Kalau jurusan yang lain ya mengikuti klo ekonomi ya jago ekonomi jadi ekonom misal nantinya.” jawab saya dengan mantabnya waktu itu. Temenku hanya senyum kemudian menjawab, “ehm….benar jawabanmu cuma ada hal yang lebih penting dari sekedar ilmu2 sihir yang kamu sebutkan tadi, memang kita harus bisa komputer kalau kuliah di komputer tapi mahasiswa sekarang melupakan hal yang lebih penting lagi dan cenderung dilupakan apa yang seharusnya didapat saat kuliah. Kalau cuma dapat ilmu2 sihir itu ya sudah sepantas nya karena kuliah di bidang itu tapi hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana mendapatkan pola pikir sebagai mahasiswa. Bagaimana menyelesaikan masalah dengan solusi dipikir, dianalisa, baru bertindak. Jangan sok yes dulu klo baru bisa jago menggunakan aplikasi2 semua yang kamu sebutin tapi pola pikir masih ‘siswa’ belom ‘mahasiswa’. Banyak mahasiswa yang lulus dengan kemampuan dibidangnya masing2 tapi gak banyak yang meningkat pola pikirnya. Kebanyakan masih di dalam ‘kotak’, ada masalah dikit ambil samurai tebas. Jadi jangan berpikir sudah hebat kalau sudah jadi Sarjana cumlaude kalau pola pikir masih kumkuman(rendeman).” begitu jawaban panjang temenku yang membuat saya merenung dan menganguk-nganguk mengiyakan tanda setuju.

“Jadi jangan sekedar jadi mahasiswa biasa kalau gak mau jadi sarjana biasa, jadilah mahasiswa luar biasa kalau mau jadi sarjana luar biasa.” mumpung belum terlambat :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s